Lu Biau
Lu Biau-Istimewa-
Waktu keras dulu statusnya adalah anggota DPR --ia perlu menang di dapilnya. Sekarang ia menteri luar negeri --yang penting masih bisa memenangkan hati Trump. Maka ketika kali ini Rubio ditanya soal Jimmy Lai ia hanya mengatakan "urusan Hongkong itu urusan dalam negeri Tiongkok".
Beres. Rubio pun telah menjadi cerita yang menarik —mengalahkan cerita soal kunjungan Trump itu sendiri.
Bahkan banyaknya CEO perusahaan kelas dunia dari Amerika yang ikut Trump seperti tidak mendapat porsi sorotan. Padahal dalam rombongan itu ada Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari NVIDIA, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Kelly Ortberg dari Boeing, Jane Fraser dari Citigroup, Larry Culp dari GE Aerospace, David Solomon dari Goldman Sachs, Cristiano Amon dari Qualcomm, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Michael Miebach dari Mastercard, Ryan McInerney dari Visa, Brian Sikes dari Cargill, dan Jacob Thaysen dari Illumina.
Mereka berkepentingan semua dengan pasar Tiongkok yang sangat besar. Mereka pasti seperti Anda, ingin damai. Agar bisnis bisa jalan. Tapi mereka juga bisa terkena jebakan Thucydides bila Trump hanya mengandalkan gaya tinjunya Mike Tyson. (Dahlan Iskan)
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 15 Mei 2026: Tuntutan Tinggi
Runner
Pintar, muda, sukses dan sudah kaya. Bahkan sudah kaya sejak kecil. Diberi kekuasaan. Bisa jadi kombinasi kelebihan-kelebihan itu ketika menyatu menjadikannya terlalu percaya diri. Bisa jadi rada meremehkan orang lain. Terbiasa benar. Terbiasa menang. Terbiasa melihat rencananya selalu berhasil. Hati-hati. Kewaspadaan dengan tidak disadari, melemah, karena masih ada kuasa. Ketika kuasa hilang. Pihak yang mengintai menemukan sasaran.
Udin Salemo
@pak Mario, saya seminggu lalu naik ojol. iseng2 ngobrol dengan driver ojol tersebut. saya tanyakan besar potongan dari yang punya aplikasi. kata dia masih seperti yang dulu, diatas 20%. ternayata belum ada realisasi keputusan pak lurah yang menetapkan potong ojol 8%. ternyata tak segampang omon-omon. hehe...
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
HUKUM HARUS ADIL: TUNTUTAN BOLEH TINGGI, SESUAI KEYAKINAN JAKSA. TAPI VONIS HARUS SESUAI HASIL PEMBUKTIAN DI PERSIDANGAN Dalam hukum, tuntutan jaksa bukan garis akhir. Itu baru pendapat resmi penuntut umum berdasarkan keyakinan dan konstruksi perkara yang mereka bangun. Bisa tinggi. Bisa sangat tinggi. Itu hak jaksa. Tetapi hakim punya tugas berbeda. Hakim tidak boleh menghukum hanya karena suasana sedang panas. Tidak boleh pula karena tekanan publik sedang keras. Vonis harus lahir dari pembuktian di persidangan. Dari saksi. Dari dokumen. Dari fakta yang diuji silang di depan hukum. Di situlah letak bedanya negara hukum dengan negara gaduh. Di negara gaduh, yang paling keras suaranya sering dianggap paling benar. Di negara hukum, yang dicari justru apa yang paling bisa dibuktikan. Karena itu publik juga perlu sabar mengikuti proses. Tuntutan 18 tahun belum tentu vonis 18 tahun. Bisa sama. Bisa lebih ringan. Bahkan dalam sejarah hukum, ada juga yang akhirnya bebas. Palu hakim seharusnya tidak bergerak karena desakan emosi. Melainkan karena keyakinan yang dibangun oleh fakta. Sebab keadilan yang terburu-buru sering kali justru tergelincir menjadi ketidakadilan.
BACA JUGA:260 Disway