Agus Mustofa
Agus Mustofa-Istimewa-
"Saya pernah diberi penjelasan mengapa nama Nahsabandiah diubah menjadi Nuhsobandiah," ujar Taufik Djapri Karim, adik sang mursyid. "Itu sama dengan Nahsabandiah tapi lebih dalam lagi," ujar Taufik menirukan penjelasan sang mursyid.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
"Setelah beliau meninggal siapa yang meggantikannya sebagai mursyid?"
"Tidak ada. Beliau yakin suatu saat ada keturunannya yang meneruskan," ujar Taufik.
Agus-lah yang paling punya potensi sebagai penerus. Tapi Agus memilih masuk jurusan teknik nuklir UGM. Setelah jadi sarjana nuklir pun ternyata Agus tidak bisa jauh dari tarekat (tasawuf). Tapi ia pilih tasawuf yang ilmiah –tasawuf modern.
Rupanya dari ayahnyalah Agus memiliki kemampuan ilmu agama. Termasuk dalam hal tarekat. Semua itu baru saya ketahui dua hari lalu ketika saya melayat ke rumahnya di hari keempat kematiannya.
Setelah ia tidak jadi wartawan saya jarang bertemu. Ia juga sibuk dengan dakwahnya. Ia keliling Indonesia. Menulis buku. Bikin rekaman video. Sesekali minta saya menulis kata pengantar untuk buku barunya.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Suatu saat saya mendengar Agus ingin menulis tafsir Quran. Lalu saya menemuinya. Saya tahu ia tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Meski tidak wajib tapi itu bisa dianggap kelemahan. Saya tidak mau Agus dikritik orang di soal yang tidak substantif: tidak pernah mendalami Islam di Timur Tengah.
Maka saya anjurkan Agus untuk ke Timur Tengah. Ia menerima saran saya itu. Ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana meski tidak lama.
Saya ingat Nurcholish Madjid. Begitu hebat pemikiran pembaharuannya dalam Islam. Tapi ada saja yang tidak bisa menerima hanya karena ia tidak bisa membaca kitab kuning –buku-buku klasik yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca.
Akhirnya Agus mulai menulis tafsir Quran. Rupanya ia sudah merasa buku tafsirnya itu akan dipersoalkan. Maka Agus menulis kata pengantar di buku tafsir itu sangat panjang. Yakni di awal buku tafsir juz 1.
Di situ ia menjelaskan perjalanan ilmu tafsir dari masa ke masa. Mulai munculnya kitab tafsir pertama di dunia. Yakni di abad ke-8 –200 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal. Anda sudah tahu nama kitab tafsir itu: Tafsir Al Kabir. Penulisnya orang Parsi: Muqatil bin Sulaiman. Pendekatannya: bahasa.