Agus Mustofa

Agus Mustofa-Istimewa-

Lima jam kemudian sang ayah meninggal: 30 Maret 2026.

Saat kabar itu datang saya sedang di Jakarta. Kaget. Ketika saya tengok Agus di RS kondisinya masih segar. Seluruh organ tubuhnya normal. Hasil CT scan dan MRI juga baik. Meski sudah 14 hari di RS belum ditemukan penyakitnya.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Saya menulis ini karena Agus Mustofa pernah lama jadi anak buah kebanggaan saya. Ia satu-satunya wartawan kami yang punya pendidikan teknik nuklir: alumnus UGM Yogyakarta.

Waktu itu saya memang ingin punya wartawan dengan segala macam latar belakang pendidikan. Ada yang teknik sipil, teknik mesin, elektro, dokter, dan Agus Mustofa.

Suatu saat Menristek Prof B.J. Habibie akan memberikan seminar di Jerman. Beliau ingin mengajak wartawan yang memahami teknologi. Dari banyak wartawan yang dinominasikan, Agus Mustofa yang lolos seleksi. Ia pun ke Jerman bersama Pak Habibie.

Saya tidak tahu apa alasan Agus Mustofa berhenti dari kewartawanan. Tahu-tahu namanya terkenal sebagai penulis buku-buku tasawuf modern. Sangat produktif. Banyak bukunya yang mengundang kontroversi. Ia termasuk yang menguraikan bahwa Nabi Adam bukanlah orang pertama di dunia. Juga bukan terbuat dari tanah liat sebagaimana yang dipercaya selama ini.

Sebagai orang nuklir, Agus menghendaki semua hal harus ilmiah.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Lebih 60 buku tasawuf modern ia terbitkan. Kalau saja tidak keburu meninggal ia bertekad terus menulis buku. Pun bila jumlahnya sudah mencapai 100 buku.

Saya tidak tahu dari mana Agus Mustofa mendapatkan ilmu agama yang begitu dalam. Termasuk dalam memahami kitab suci. Belakangan ia juga laris sebagai penceramah agama.

Ternyata Agus Mustofa adalah putra Syekh Djapri Karim –tinggal di Malang tapi kelahiran Kalsel. Suku Banjar. Ibunya wanita Jawa keturunan Aceh.

Syekh Djapri Karim adalah mursyid tarekat Nahsabandiah. Ia meninggal tahun 1990 di usia 90 tahun. Di usia tuanya, Syekh Djapri menamakan aliran tarekatnya Nuhsabandiah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan