Lu Biau

Sabtu 16 May 2026 - 21:42 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Bahtiar HS

Kalau saya menduga2 kasus NM ini akan diintervensi presiden seperti TL dulu. Karena kasus ini bisa nyerempet dan merembet ke atas karena "atas perintah dan persetujuan". Bisa nyenggol pakde. Jadi mesti dihentikan. Lewat abolisi atau amnesti. Kalaupun nanti sudah inkracht, presiden msh bs memberikan grasi kepada ybs. Banyak jalan menuju penjara. Tp banyak jalan pula membebsskannya. Hanya saja jk itu dilakukan, berisiko memicu polemik publik dan dianggap melemahkan agenda pemberantasan korupsi. Dan utamanya juga mengancam agenda 2029 utk nyalon lagi. Wkwkwk.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Beny Arifin

Bagi saya kalau pun Nadiem harus diadili, adili lah karena IPO nya yang sudah diprediksi hanya exit door strategi atas bakar duitnya GOTO bertahun2. Dan ternyata benar bahwa saham GOTO akhirnya nyungsep ke 50 perak. Membawa kerugian ribuan investor yang membeli sahamnya. Itu lebih patut diadili merurut saya walaupun memang tidak ada dasar hukumnya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TANTANGAN BERAT BAGI HAKIM DALAM MEMUTUSKAN.. Di ruang sidang, hakim sering tampak paling tenang. Padahal justru di kursi itulah tekanan paling keras duduk bersama. 1) Jaksa keras dengan tuntutannya. 2) Medsos lebih keras lagi dengan penghakimannya. Kadang palu sidang kalah nyaring dibanding notifikasi TikTok dan YouTube. Hakim akhirnya berdiri di tengah hujan sorotan. 1) Salah memutus, dicurigai. 2) Terlalu ringan, dicibir. 3) Terlalu berat, dianggap pesanan. Padahal tugas hakim bukan menyenangkan penonton.

Bukan pula memenangkan jaksa atau pembela. Tugasnya hanya satu: menegakkan keadilan berdasarkan fakta dan keyakinan hukum. >>>Itulah sebabnya pekerjaan hakim makin berat di era digital. <<< Dulu tekanan datang dari ruang kekuasaan.

Sekarang datang juga dari kolom komentar. Lengkap dengan emoji marah dan profesor dadakan ilmu pidana. Karena itu publik juga perlu adil. Biarkan hakim bekerja sampai putusan selesai. Pengadilan bukan lomba polling. Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah likes. Sebab kalau hukum akhirnya kalah oleh kegaduhan, maka yang tersisa hanya tepuk tangan. Dan tepuk tangan tidak pernah bisa menggantikan keadilan.

Kategori :