Lu Biau

Sabtu 16 May 2026 - 21:42 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Salah satu alasan kenapa saya ngeyel harus dibuatkan Aplikasi Disway adalah: kita bisa menghapus komentar kita sendiri yang mungkin ada kesalahan fatal. Seperti komentar saya di atas. Itu jelas salah karena itu komentar saya 2 hari lalu. Tapi saya tak bisa menghapusnya.

Edi Sampana

gaji hakim dan panitera sdh dinaikkan 280% oleh Presiden Prabowo. Mudahan tidak ada lagi istilah peradilan sesat di Indonesia ? Yg sejak dulu jadi harapan saya. Mestinya ada hukuman bagi individu polisi dan jaksa, kalau pada akhirnya terdakwa itu tdk jadi terpidana. Dengan vonis bebas oleh hakim berarti terdakwa dirugikan selama diproses oleh polisi dan jaksa (stres, malu, ditahan, dll). Terdakwa harus diberi uang oleh negara. Individu polisi dan jaksa penuntut harus dihukum, minimal didemosi ?

Sugi

Saya tidak tahu yang mana benar, yang mana salah. benar seakan salah. salah seakan benar. tapi dunia terlalu sempit kalo sekadar hitam putih, benar salah. Semoga keadilan tegak setegak-tegaknya untuk Mas Nadiem. Budaya hukum yang seimbang pasti tinggal mengikuti dari belakang.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

DeniK

pelajaran buat para orang tua . dahulu kala orang tua Nadiem sangat amat rajin Menuduh Pak Harto korupsi . apapun kegiatan nya pasti di tuduh korupsi . nah , sekarang anaknya yang merasakan di tuduh korupsi sampai pengadilan dan hampir di pastikan vonis bersalah dalam kasus Korupsi . Tuhan Tidak Tidur .

Sulaspin

Seseorang yang sukses di dunia bisnis, belum tentu menjamin kesuksesan di dunia pemerintahan. Urusan bisnis sangat berbeda dengan urusan pemerintahan. Di lingkungan pemerintah ada semacam ungkapan : Tidak boleh melakukan apapun, sepanjang tidak ada payung hukumnya. Adapun di sektor swasta : Boleh melakukan apa saja, asal tidak menabrak payung hukum yang ada. Karenanya, sektor swasta bergerak lebih cepat. Lebih lincah. Lebih gesit. Sedangkan pemerintah terkesan lamban. Ragu ragu. Takut melangkah. Tidak berani ambil keputusan. Dibayangi berurusan dengan hukum.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TUNTUTAN DAN TEKANAN.. Kasus besar memang sering berubah jadi panggung besar. Jaksa, pengacara, aktivis, profesor, sampai komentator dadakan di grup WA ikut main peran. Kadang lebih ramai dari sidang itu sendiri. Bedanya, di pengadilan tidak ada tombol skip ads. Menarik membaca CHDI hari ini. Ada benturan antara hukum, opini publik, dan strategi komunikasi. High profile bisa jadi pelindung. Bisa juga jadi pengeras suara yang memantulkan balik tekanan. Di negeri timur, muka kadang ikut masuk berkas perkara.

Tidak tertulis di KUHP. Tapi terasa di lorong pengadilan. Putusan bebas kasus Sritex memberi pesan penting: Hakim masih bisa berbeda dengan tuntutan jaksa. Itu sehat. Artinya ruang independensi belum sepenuhnya disegel semen. Di sisi lain, tuntutan tinggi terhadap Nadiem juga menunjukkan satu hal: perkara besar selalu membawa ekspektasi besar. Publik ingin keadilan. Aparat ingin wibawa. Pendukung ingin pembelaan. Penentang ingin pembuktian. Sisanya tinggal satu pertanyaan klasik: apakah pengadilan akan lebih mendengar bunyi pasal, atau bunyi gaduh?

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Kategori :