WFH Sarengat
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa kebijakan Work From Home (WFH) tidak wajib diterapkan setiap hari Jumat, khususnya bagi karyawan swasta. -Dok. Kemnaker-
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Tulisan itu diserahkan ke atasan. Atasan membaca dan menilai: rencana kerja itu sudah membuat bawahan produktif atau belum. Kalau belum, harus ditambah. Intinya: produktivitas.
Bangsa yang maju adalah yang produktivitasnya tinggi.
Bahwa atasan pun di saat WFH harus masak dan cuci baju itu bisa dilakukan sebelum jam kerja. Saya, kalau di luar negeri, juga cuci baju sendiri. Biasanya sambil mandi. Agar tidak berat yang dicuci hanya tiga potong. Sederhana.
Apalagi sekarang di Tiongkok banyak hotel menyediakan mesin cuci. Bahkan ada yang mesinnya ditaruh di pojok ruang olahraga: sebelum olahraga masukkan baju kotor ke mesin, selesai olahraga cucian selesai. Cucian itu berat kalau baju kotornya ditumpuk sampai segunung.
"Menuliskan yang akan dikerjakan, mengerjakan yang ditulis".
BACA JUGA:Disway Gratis
Maka pekerjaan semua pegawai adalah menulis: Kamis sore menulis apa yang akan dikerjakan di hari WFH-Jumat, Jumat sore menulis apa yang sudah dikerjakan di hari itu.
Di era serba software sekarang ''manajemen produktivitas'' seperti itu bisa lebih sederhana lagi. Atasan dan semua bawahan menggunakan aplikasi yang sama: upload tulisan dilakukan di aplikasi yang sama. Atasan bisa melihat sendiri di aplikasi. Bahkan atasan yang levelnya lebih tinggi bisa mengakses aplikasi itu.
Atasan dan bawahan bisa baca semua yang ditulis dan dikerjakan di hari WFH. Atasan yang lebih tinggi juga bisa menilai atasan yang menjadi bawahannya.
Atasannya atasan juga bisa menilai bawahannya bawahan. Dengan demikian bisa diketahui apakah di level yang lebih bawah ada bibit-bibit unggul untuk dipromosikan kelak.
Tapi itu bisa berjalan kalau meritokrasi dilaksanakan di semua level.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1