Tol Tentara

Jalan tol di Mesir terdiri dari lima lajur dan sangat lebar. Selain itu tarifnya supermurah. -Harian Disway-

Apakah perusahaan milik tentara itu tidak menghitung ROI (return on investment)? Tidak pakai itungan kapan balik modal?

Tentu ada. Tapi cara menghitungnya yang berbeda. Jalan tol di Indonesia punya cara menghitung sendiri. Begini: 100 persen biaya dianggap pinjaman dari bank. Padahal, sebenarnya hanya 70 persen. Yang 30 persen dari penggelembungan nilai proyek.

Maka harus ada biaya bunga bank dari yang 100 persen itu. Termasuk bunga saat pembangunan dan setelah pembangunan.

Biaya pembangunannya sendiri dibuat cukup untuk memberi laba untuk dibagi-bagi: kontraktor, sub kontraktor dan subnya sub kontraktor.

Kontraktor tidak mengerjakan sendiri proyeknya. Kontraktor menyerahkan bagian-bagian pekerjaan ke sub kontraktor. Berarti ada ruang laba untuk sub kontraktor.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Sub kontraktor pun masih menyerahkan pekerjaan ke pelaksana. Ada laba lagi.

Belum lagi faktor risiko. Juga sekalian dimasukkan dalam perhitungan bunga.

Pun soal pembebasan tanah. Diserahkan ke kontraktor pembebasan. Lalu ke calo. Baru ke koordinator. Semua mengandung biaya.

Dan semua semua itu dibebankan ke tarif tol. Sedang di Mesir tanah adalah tanah negara.

Di Mesir perhitungan non keuangan bisa dimasukkan ke biaya. Di Mesir dalam menghitung ROI pemerintah menghitung return yang bukan investment.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Misalnya: kalau tarif tol murah berarti kian banyak kendaraan yang tidak pakai jalan non-tol. Itu berarti biaya pemeliharaan jalan itu menurun. Dengan lancarnya jalan tol angkutan orang dan barang lancar --menurunkan inflasi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan