Kaya Miskin
Kaya Miskin-Istimewa-
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Di bagian barat yang tinggi itulah, di wilayah Kabupaten Dairi, hulu beberapa sungai kecil. Air sungai-sungai itu tidak mengalir ke Toba, tapi ke arah sebaliknya: ke Karo, ke Aceh Singkil, akhirnya terbuang ke laut selatan.
Sungai-sungai itulah yang dibendung. Air dari bendungan itu dipaksa mengalir ke sebuah ''sungai'' buatan. Panjang sungai buatan itu 11 Km. Sembilan atau 11 sungai kecil lainnya juga dipaksa menyatu ke sungai buatan itu.
Kontur alam Dairi membuat air sungai itu mengalir ke barat, menjauhi Toba. Sungai buatan itu dibuat menurun ke timur, mengarah ke Toba. Sungai buatan itu tidak terlihat –berupa terowongan di bawah gunung batu. Besar terowongannya bisa dimasuki truk besar.
Begitu terowongan sungai buatan itu sampai di dekat Desa Silalahi dibuatlah lubang ke bawah sedalam 100 meter: melubangi gunung batu.
Betapa sulit membuat terowongan besar sepanjang 11 km dan lubang sedalam 100 meter di gunung batu. Betapa besar biayanya.
BACA JUGA:Disway Gratis
Jumlah air yang dikumpulkan sedikit-sedikit dari 11 sungai kecil itu mencapai 10 m3/menit. Semuanya diterjunkan ke lubang setinggi 100 meter itu. Jadilah air terjun buatan. Tidak terlihat dari luar. Semua terjadi di perut gunung batu Dairi.
Air terjun itulah yang disambut oleh turbin. Dua turbin. Turbin pun berputar cepat –menggerakkan generator, menghasilkan listrik.
Kalau saja air sungai-sungai kecil itu tidak dipaksa balik arah, air itu akan masuk ke sungai Renun. Terbuang sia-sia ke Samudera Hindia.
Maka sebenarnya tujuan utama memindahkan aliran air itu bukan untuk menghasilkan listrik. Tujuan utama Jepang adalah menjaga volume air di Danau Toba.
Air 10 m3/detik itu, setelah memutar turbin ''dibuang'' ke Danau Toba. Mengisi Danau Toba.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1