Otot Kuat

Menantu Pak Iskan dan anaknya latihan berjalan setelah operasi lutut. -Disway-

"Ibu bersama-sama saya saja operasi lutut," kata si anak kepada ibunya.

Besoknya sang ibu bicara pada suaminya. "Saya mau kalau operasinya sama-sama ....", ujarnya seraya menyebut nama anaknya itu.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Maka diputuskan mendadak: tanggal 11 Desember sang ibu operasi. Tanggal 12 Desember, esoknya, giliran sang anak. Di rumah sakit yang sama: RS Orthopedi Surabaya.

Dokternya sama: Theri Effendy. Alumnus Unair Surabaya. Murid Prof Dr Dwikora. Umurnya baru 45 tahun. Ganteng. Athletis.

Theri memang olahragawan: gila sepeda. Hampir selevel dengan anaknya menantu Pak Iskan. Hubungan mereka bukan lagi seperti dokter dan pasien. 

Sudah seperti di film Hate and Love --saya lupa apakah benar-benar ada film dengan judul itu.

Si anak menjalani operasi tanpa mengeluh sakit. Di hari kedua setelah operasi, si anak sudah latihan jalan. 

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Sehari setelah operasi itu ia sudah bisa ke kamar sebelah: menengok ibunya --meski masih pakai alat bantu empat kaki itu.

Mungkin karena ditengok anak, sang ibu merasa lebih bersemangat. Sore harinya, ketika sang ibu menjalani fisioterapi tidak mengeluh sakit lagi.

Apalagi ketika melihat si anak di hari ketiga sudah latihan naik tangga. Sang ibu terlihat begitu termotivasi. Dia pun melakukan fisioterapi lanjutan dengan senyuman.

Saya pun bertanya kepada anaknya menantu Pak Iskan itu: mengapa Anda, di hari kedua, sudah latihan berjalan, dan di hari ketiga sudah bisa latihan naik tangga.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan