Nabi Baru
Prof Dr Al Makin –ahli tafsir Quran lulusan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta; McGill, Kanada; dan Heidelberg, Jerman.-Istimewa-
Belum sampai khotbah itu selesai, polisi kian banyak. Mereka ditangkap. Diborgol. Tangan. Kaki. Dimasukkan mobil. Ditahan.
Selama 28 hari mereka tidak bisa mandi. Tidak ganti baju. Borgol terkunci permanen di tangan dan kaki. Jubahnya sudah disita. Pun tongkatnya. Tinggal baju putih panjang lengan panjang. "Sampai warnanya menjadi hijau berlumut," ujar Harmain.
Mereka beberapa kali diambil darah. Diperiksa. Kelihatannya akan dilihat apakah ada ditemukan kelainan jiwa. Hasilnya: sehat semua.
BACA JUGA:Disway Gratis
Di setiap pemeriksaan mereka tetap berpegang pada ayat bahwa harus ada nabi dan rasul di setiap kaum. Atau ayat akan turunnya Imam Mahdi –dan itu Al Jabir.
Bahwa nama Imam Mahdi itu Al Jabir dari Medan, mereka berhujah apa bedanya dengan ayat tentang akan munculnya nabi bernama Ahmad dan yang muncul kemudian ternyata bernama Muhammad SAW.
Mereka juga berhujah bahwa setiap zaman harus muncul rasul dan nabi. Untuk memperbaiki akhlak yang rusak –seperti sekarang ini.
"Kenapa harus ada nabi. Kan sudah ada ulama?" tanya saya.
"Tidak ada perintah dalam Quran untuk mengikuti ulama. Yang ada adalah perintah untuk mengikuti Allah dan rasul," ujar Harmain. Apalagi pendapat ulama berbeda-beda. Beda tafsir. Beda kepentingan.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Maka, menurut logika mereka, harus ada rasul. Barulah ummat menjadi baik lantaran ada perintah langsung Quran untuk taat kepada Allah dan rasul.
Logika mereka begitu. Keberadaan rasul suatu keharusan agar ada yang ditaati.
Saya pun beralih ke soal pribadi nabi Muhammad.