Batu Mala

Selasa 23 Jun 2026 - 19:29 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Logika publik langsung seperti kena setrum. "Di tempat saya mati lampunya sudah empat jam," komentar pendengar SS. Berarti ini bukan karena ada pemeliharaan.

Maka "pemeliharaan" hanyalah alasan untuk menutupi penyebab yang sebenarnya.

Sang juru bicara tentu klepek-klepek. Dia telah telanjur mengatakan dua kebenaran yang saling bertentangan. Untung penyiar SS pintar menyelamatkan keadaan tanpa ada yang harus merasa malu.

Saya yang juga sedang mendengar SS di perjalanan ke Mojokerto tentu iba kepada juru bicara PLN itu. Dia tahu penyebab mati listrik adalah "xyz" tapi dia harus mengatakan "zyx". Dia harus begitu. Agar selamat.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Pernah seorang dirjen kehilangan jabatan yang begitu tinggi hanya karena mengatakan angka yang berbeda dengan atasannya. Sampai sekarang, sudah sekitar setahun, jabatan itu masih kosong. Seorang dirjen lainnya merangkap jabatan sebagai Pjs dirjen yang kosong. Bagus juga. Lebih efisien. Kalau semua kedirjenan bisa dirangkap-rangkap alangkah sederhananya birokrasi.

Kebenaran kadang memang harus datang secara bertahap. Belakangan sudah tidak ada lagi alasan bahwa mati lampu akibat pemeliharaan. Tahapnya sudah sampai pada "mati lampu akibat dua pembangkit listrik besar-besar di Jawa mengalami masalah teknis". Berarti mati lampu selama ini akibat kekurangan listrik. Bukan akibat pemeliharaan.

Alasan terbaru itu benar. Tidak bohong –kalau saja tidak ada "kebenaran" yang lebih baru.

Kenapa hanya karena dua pembangkit besar yang bermasalah sudah mengakibatkan Jawa kekurangan listrik? Bukankah di Jawa sudah kelebihan listrik, yang tingkat kelebihannya jauh lebih besar dari berkurangnya listrik akibat dua pembangkit yang bermasalah itu?

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Menunggu kebenaran itu harus sabar. Sepanjang masih bisa ditutupi kebenaran biasanya masih malu-malu untuk muncul.

Semua pembangkit listrik pernah mengalami masalah. Langkah terpenting: meminimalkan masalah. Itulah sebabnya setiap pembangkit diberi jatah "libur'" dua minggu setiap tahun agar bisa dilakukan penggantian suku cadang yang berpotensi rusak mendadak. Lalu boleh "libur" satu bulan setiap dua tahun untuk penggantian suku cadang yang lebih penting. Ada lagi "libur" tiga bulan tiap lima tahun untuk perbaikan besar.

Maka jumlah dan kapasitas pembangkit listrik harus lebih besar dari yang dibutuhkan. Agar kalau ada yang lagi libur tidak terjadi kekurangan listrik. Bahkan masih tetap harus ada cadangan kalau-kalau ada pembangkit yang bermasalah secara tiba-tiba.

Jadi benar sekali alasan ada dua pembangkit yang bermasalah. Bahkan bisa lebih dari dua.

Kategori :