Amang Amat

Minggu 29 Mar 2026 - 19:36 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

"Jadi Dur," kata saya. "Misalnya, Gus Dur. Dari Abdurrahman Wahid".

"Kalau Muhammad jadi Amat?"

"Bukan. Amat itu dari Ahmad".

Tanda bahwa ia senang dengan nama panggilan Amang terbukti nama itu ia pakai biar pun sudah kembali menetap di Tarim. Nama statusnya di HP pun Amang.

Amang bercerita punya teman sekampung di Tarim bernama Alawi. Juga pernah kuliah di Surabaya. Di Surabaya Alawi dipanggil dengan ''Wi". Ia tidak suka dengan panggilan ''Wi' itu.

"Wi itu kedengarannya jelek," kata sang teman. Mungkin ia tidak tahu ada tokoh Jawa yang panggilannya ''Wi'' dan top-nya bukan main. Akhirnya si teman minta dipanggil Amat saja

Sampai ketika mendarat di Saiyun saya masih belum punya gambaran kalau akan ke kota Mukalla. Begitu tahu Saiyun dekat Tarim saya pun senang saja: bisa ke Tarim.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Mungkin kalau dari Jeddah benar-benar mendarat di Aden saya tidak akan bisa ke Tarim. Tidak akan ada tulisan tentang Tarim sampai enam seri (Lihat Disway 12,13, 14, 16, 17, dan 18 Februari 2026).

Begitu ke Tarim tidak bisa ke mana-mana lagi. Baru ada pesawat keluar dari Yaman tujuh hari lagi.

Saya pun bingung: akan ngapain saja enam hari di Tarim.

Menghafal Quran? Sudah terlalu tua untuk mengingat hafalan begitu banyak.

Ziarah ke makam-makam para wali? Satu hari juga bisa selesai.

Memperdalam silsilah Habib? Saya justru takut terjebak ke perdebatan yang tiada ujungnya. Sudah tiga tahun debat publik soal silsilah Habib itu begitu menguras perhatian sampai lupa harga saham jatuh ke jurang.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

Kategori :