Oleh: Dahlan Iskan
OKU EKSPRES.COM- Black Weekend. Panik. Serbasalah. Weekend kali ini agak lain. Bulan pertama tahun 2026 ternyata harus ditutup dengan kisah sedih di akhir minggu.
Dimulai hari Rabu: indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih tujuh persen. Begitu besarnya sampai perdagangan saham dihentikan. Kamis masih juga jeblok. Pun setelah perdagangan dihentikan lagi. Total turun lebih delapan persen: ditutup di angka Rp8.300.
Sebenarnya angka itu masih di atas harga saat Prabowo dilantik sebagai presiden. Tapi anjlok begitu dalam memang menjadi drama yang menegangkan.
Siapa pun akan panik: bagaimana cara menyelamatkannya. Wajah Presiden Prabowo seperti ditampar terang-terangan di atas panggung dunia.
Saya bisa bayangkan betapa marah Presiden Prabowo. Tapi saya tidak bisa membayangkan apakah cukup kalau hanya handphone yang harus dilempar.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Tapi, dalam hal ini, siapa yang harus dilempar sesuatu?
Dari respons petinggi Danantara terlihat tudingan utama terarah ke regulator. Misalnya seperti yang diucapkan Pandu Syahrir, CIO Danantara.
"Katakanlah ada yang goreng-goreng saham. Jangan pemainnya yang disalahkan. Tidak ada gunanya," ujar Pandu di Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta. "Pemain hanya memanfaatkan peluang yang tersedia," tambahnya.
Berkali-kali Pandu menyebut regulator yang sangat lambat berbenah diri. "Kan sudah diingatkan sejak tiga atau empat bulan lalu," kata Pandu. "Sudah diingatkan berkali-kali. Akhirnya beneran terjadi," katanya.
Lalu panik. Tidak ada gunanya lagi.
Tanda kepanikan pertama terlihat dari keluarnya peraturan dari pemerintah: dana asuransi boleh lebih banyak dipakai membeli saham. Boleh sampai 20 persen. Dulunya dana asuransi amat dibatasi: hanya boleh lima persen yang dipakai main saham.
Tujuan perubahan peraturan itu bisa dibaca dengan jelas: agar indeks harga saham bisa dinaikkan lagi. Artinya: asuransi diminta memborong saham di bursa. Mumpung harga turun.