Sakit Jantung
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Nanik mengungkapkan bahwa dirinya akan berangkat pada Rabu, 22 Juli 2026, untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. -dok Disway-
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Maka, kata saya, lain kali kalau Anda mundur lagi jangan lewat medsos. Gak usahlah menjelaskan alasan mengapa mundur. Cukup kalau sudah mengajukannya ke presiden dan sudah disetujui. Kalau pun punya alasan tertentu cukup diberitahukan ke presiden.
Rasanya Anda memang tidak cocok menjadi birokrat –apalagi menjadi orang nomor satu di lembaga setingkat menteri. Pekerjaan paling cocok untuk Anda, ya, jadi wartawan seperti dulu. Tapi profesi wartawan pun sekarang sudah berubah. Maka, sebagai ganti, Anda sebaiknya jadi oposisi –seperti yang Anda lakukan di era Presiden Jokowi menjelang periode kedua.
Waktu itu Anda begitu enteng berubah sikap: dari pendukung all out Jokowi menjadi anti-Jokowi.
Tapi saya juga tahu Anda sangat cocok dengan Prabowo: tidak mungkin jadi oposisi. Terutama Anda satu pemikiran dalam program ''memihak rakyat'' –meski hati Anda berontak kok pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan. Itu membuat Anda ingin jadi oposisi tapi sulit bersikap oposisi kepada Prabowo.
Akhirnya saya anjurkan saja di sini: begitu dokter di luar negeri juga memutuskan Anda harus operasi: pulanglah. Jalani operasi itu di RS Pertamina yang Anda jadi komisaris di induk perusahaan itu. Nyawa itu hanya titipan. Bisa diambil yang titip kapan saja dan di mana pun.
BACA JUGA:Disway Gratis
Beda dengan saya: saya berobat ke RS Madinah karena jatuh sakitnya saat umrah bersama keluarga. Lalu saya batal umrah untuk berobat di Surabaya. Begitu mendarat dari Madinah saya langsung ke RS National Hospital. Tiga hari opname di situ: tidak ditemukan sakit apa.
Setelah ke Singapura baru ditemukan: aorta dissection. Pembulah darah utama saya pecah. Sepanjang setengah meter. Untung tidak meninggal dalam penerbangan Madinah-Surabaya. Atau dalam penerbangan Surabaya-Singapura.
Itu sekaligus menunjukkan ''wajah lain'' dokter Indonesia: tidak mau buru-buru minta pasien di CT Scan. Kasihan pasien. Sekali CT Scan bisa habis Rp 7,5 juta. Dokter Indonesia terlalu memikirkan keuangan pasiennya. Padahal kalau langsung di-CT Scan akan ketahuan saat itu juga: aorta dissection.
Singapura menemukan penyakit saya bukan karena dokternya lebih ahli. Tapi karena dokternya memutuskan langsung CT Scan. Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak. Tidak pakai prosedur bertahap –kalau tidak ditemukan baru diminta CT Scan.
Ketika berobat ke luar negeri pasien Indonesia tidak akan keberatan ditagih berapa pun. Paling hanya ngomel di dalam hati. Hasilnya: banyak pasien merasa berobat di luar negeri lebih hebat: cepat ketahuan penyakitnya dan cepat ditangani. Akhirnya muncul citra tingkat keberhasilan berobat di luar negeri tinggi. Padahal itu terkait langsung dengan ''keberanian'' dokter melakukan tindakan ''mahal'' di awal pemeriksaan. Bukan karena lebih pintar.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1