Isi Dompet
Bandara Vladivostok. -Disway-
Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto. Saya ikut dalam rombongan presiden berkunjung ke Moskow dan St Petersburg. Lalu ke Tashkent di Uzbekistan –waktu itu masih bagian Uni Soviet. Dari Tashkent ke Bukhara di Samarkand --ke makam perawi hadis ulama besar Imam Bukhari.
Saat bermalam di Tashkent, kamar hotel saya diketuk tiga kali. Ketika saya buka pintu dua orang berjubah muslim memaksa masuk sambil memberi isyarat agar saya jangan bicara.
Pintu ditutup. Dikunci. Mereka mengajak bicara baik-baik. Mereka bilang bahwa saya pasti memerlukan rubel. Mereka menawarkan agar saya menukar dolar dengan rubel yang mereka bawa. Mereka bilang saya bisa membeli rubel jauh lebih murah dibanding di tempat penukaran resmi.
"Ini untuk biaya perjuangan kami di Afghanistan," kata mereka setengah berbisik.
Saya pun serahkan dua lembar dolar Amerika @100. Mereka memberi saya rubel satu kantong plastik. Saya tidak hitung berapa nilainya. Yang penting mereka cepat keluar kamar.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Waktu itu sistem komunis di Uni Soviet dalam proses keruntuhannya. Saya sempat ke toko-toko di Moskow tapi tidak ada barang. Toko-toko nyaris kosong. Toko baju hanya memajang satu dua baju. Saya pun tidak beli apa-apa. Tidak ada yang bisa dibeli.
Sebagai anggota rombongan presiden saya juga tidak bisa ke mana-mana. Jadwal amat padat. Sampai hari terakhir akan meninggalkan Uni Soviet, rubel itu utuh. Saya tinggalkan di kamar. Saya takut membawa pulang –menjaga kehormatan rombongan. Toh di Indonesia tidak laku. Rubel Soviet saat itu ibarat sampah.
Rubel yang sekarang adalah rubel Russia. Beda. Sudah bernilai tapi tidak laku di banyak negara.
Pukul 06.00 saya mendarat di Vladivostok: kali pertama. Pikiran pun mengarah ke petualangan baru: naik kereta Trans Siberia. Itulah jalur kereta api terpanjang di dunia.
Tidak. Tidak mungkin. Isi dompet saya terbatas sekali. (Dahlan Iskan)