Cinta Alwi
Cinta Alwi-Istimewa-
Oleh: Dahlan Iskan
OKU EKSPRES.COM- Kali pertama melihat Banda, pekan lalu, perasaan saya campur aduk: siapa pemilik Banda. Sepertinya tetap Indonesia; –yakni Indonesia yang sibuk dengan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, rupiah yang melemah, saham yang berguguran, dan ekspor sawit batu bara.
Dermaga kapal ini masih mengingatkan saya situasi Kaltim 50 tahun yang lalu. Lautnya sendiri bersih dan tenang.
Dermaga Banda tetap di teluk yang damai oleh perlindungan pulau besar di depannya: pulau Banda Besar.
Masih diayomi pula pulau Gunung Api yang menjulang tidak tinggi di sebelahnya. Tapi kapal yang bersandar di situ juga tidak banyak.
Hanya satu kapal cepat yang saya tumpangi tadi, satu kapal kayu pengangkut sembako dari Ambon dan beberapa perahu bermotor jurusan pulau-pulau sekitar Banda.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Warung dan toko di sekitar dermaga juga lengang. Beberapa ojek sepeda motor menunggu penumpang yang turun dari perahu.
Ada satu pasar; di kiri kanan jalan menuju pelabuhan. Tapi pasar itu hanya terlihat lapaknya.
Pasar itu memang hanya hidup ketika ada kapal Pelni merapat ke pelabuhan di dekatnya. Penumpang yang transit beberapa jam di Banda boleh turun untuk beli makanan di pasar itu.
Begitu kapal membuang sauh pasar pun tutup –sampai kedatangan Pelni berikutnya.
Tidak jauh dari pasar itulah rumah pembuangan Bung Sjahrir –Sutan Sjahrir yang kelak di akhir tahun 1945 menjadi perdana menteri Indonesia. Itu rumah kuno. Rumah Belanda.
Tidak terawat. Saya melangkah masuk ke rumah itu.