Langit Sumur

Langit Sumur-Istimewa-

Dari jauh memang terlihat bangunan modern di puncak gundukan bukit. Di situlah Ketua Otorita IKN Basuki Hadimuljono, berkantor.

"Kita lihat istana dulu, makan siang dulu, atau ke masjid dulu?" tanya saya.

"Ke masjid," jawab Rizal.

Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.

Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.

"Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini," ujar Rizal.

"Berangkat dari Balikpapan jam berapa?"

"Jam empat pagi," jawabnya.

Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.

Lantaran masjid di lantai tiga masih diperbaiki, kami salat duhur di lantai dasar. Karpet dan mihrabnya dibuat seperti masjid permanen. Padahal lantai dasar itu awalnya untuk ruang serbaguna –misalnya untuk kawinan atau seminar besar.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan