Da Yunhe
Di depan rumah penulis buku Journey to the West. -Disway-
Padahal di Tiongkok tidak ada sungai yang mengalir dari selatan ke utara. Atau sebaliknya. Semua sungai besar di sana mengalir dari barat ke timur. Yakni dari arah pegunungan Kunlun ke Laut Jepang.
Itu membuat ibu kota Beijing --yang nun jauh di utara-- kekurangan pangan.
Bahan makanan terbanyak ada di daerah paling subur di Tiongkok: di delta sungai Chang Jiang. Di provinsi Jiangsu dengan ibukota Nanjing. Juga di provinsi Zhejiang --dengan ibu kotanya Hangzhou. Dua-duanya jauh di selatan Beijing.
BACA JUGA:Disway Gratis
Tidak ada jalan darat ke Beijing dari selatan. Kalau pun ada hanya untuk angkutan sejenis kuda. Tidak banyak yang bisa diangkut.
Maka Tiongkok memutuskan membangun sungai buatan. Dari selatan ke utara: 1.800 km. Dari Hangzhou sampai Beijing. Lewat Jiangshu. Sangat lebar. Sangat dalam. Agar bisa dilalui kapal-kapal besar.
Orang masa lalu ternyata lebih mampu melahirkan tekad besar. Padahal teknologi sangat terbatas.
Pun jauh di selatan ada keputusan besar: membangun Borobudur. Kita tidak pernah lagi membuat keputusan sebesar itu --sampai ada keputusan membangun IKN, yang juga seperti Borobudur, bukan proyek ekonomi.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Nun di utara sana keputusan besar yang dibangun untuk kepentingan ekonomi: sungai buatan sejauh 1.800 km.
Nama proyeknya: Da Yunhe (大运河). Dibahasa Inggriskan menjadi: Great Canal.
Nah, di antara kota yang dilewati proyek itu yang paling strategis adalah Huai An. Maka pusat kendali proyek ini dipusatkan di Huai An. Bukan di Hangzhou. Bukan di Suzhou. Bukan di Wuxi. Bukan di Yangzhou. Bukan di Xuzhou. Tapi di Huai An.
Saya telat tahu itu. Dua bulan lalu, saat saya ke Huai An, saya hanya ke pembangkit listrik baru: memanfaatkan gua bekas tambang garam. Saya tidak menyangka Great Canal lewat di situ. Apalagi ternyata Huai An menjadi pusat pengendaliannya. Termasuk pusat pemungutan pajak barang dagangannya.