Hotel Syiah

Hotel Syiah-Istimewa-

Tentu Amerika senang bahwa yang hadir dari Iran adalah Bagher Ghalibah. Amerika bersimpati pada Ghalibah. Bahkan Amerika berharap orang seperti Ghalibah yang kelak menjadi presiden Iran.

Sebaliknya Iran juga senang bahwa delegasi Amerika dipimpin Wapres JD Vance. Anda sudah tahu: Vance adalah tokoh di sekitar Trump yang paling tidak setuju serangan ke Iran. Posisinya berseberangan langsung dengan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Sedangkan sikap Menlu Rubio dinilai plintat-plintut.

Trump pernah lebih terpikat dengan pendapat Hegseth: serang Iran sekarang juga. Pasti menang. Itu soal kecil di mata Amerika.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Setelah perang berlangsung 40 hari, Trump mengutus wapres untuk berunding dengan Iran. "Benar kamu!" mungkin begitu kata-kata Trump saat Vance pamit menuju Islamabad.

Saya sendiri harus berdamai dengan perusuh Disway –seperti di komentar kemarin: hari ini sebaiknya menulis yang ringan-ringan saja. Inilah hasilnya. Ternyata tidak mudah menulis yang ringan. Lebih mudah membahas materi perundingan yang serius. Tinggal kutip sana-sini.

Sedang untuk tulisan hari ini saya harus mengingat kunjungan saya ke Pakistan beberapa tahun lalu. Untung kejiwaan saya tidak menurun drastis tahun-tahun terakhir. Saya masih ingat waktu itu lewat di depan Hotel Serena dan saya banyak bertanya tentang siapa di balik hotel itu.

Akhirnya saya harus menulis yang Anda sudah tahu tadi: siapa pemilik hotel ini. Orang kaya itu adalah Shah Karim al-Hussaini. Gelarnya: Agha Khan IV.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Al Hussaini lahir di Swiss. Usianya 88 tahun ketika meninggal dunia tahun lalu. Ia meninggal di rumahnya di Lisbon, Portugal. Ia punya kewarganegaraan lima negara tapi punya rumah di banyak negara.

Setelah ia meninggal, aliran Islam syi'ah Nizari Ismaili dipimpin anaknya: Agha Khan V.

Pakistan yang miskin memang punya beberapa konglomerat kaya. Di samping Agha Khan masih ada konglomerat Syahbas Syarif: perdana menteri Pakistan sekarang --yang seluruh keluarganya jadi pejabat tinggi di berbagai level dan kedudukan.

Syahbas Syarif-lah yang kini jadi tuan rumah peristiwa penting perundingan Iran-Amerika. Harus sukses --termasuk demi ekonomi Pakistan sendiri.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan