Iri Masyaallah
Iri Masyaallah-Istimewa-
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Letak kota Wadi Doan ini unik. Tidak terlihat dari jalan raya poros utama Tarim-Mukalla. Di sepanjang perjalanan saya seperti tidak pernah melihat kota.
Ternyata kota-kotanya tersembunyi di bawah sana. Di dalam wadi. Wadinya sangat dalam. Jangankan rumah di situ, pepohonan di wadi pun tidak terlihat dari jalan raya.
Yang terlihat hanya permukaan pegunungan yang serba rata. Dari jalan raya itu ternyata banyak jalan kecil masuk ke wadi. Jalannya menurun. Berliku. Begitu sampai di kedalaman sekitar 100 meter baru terlihat banyak pohon. Banyak rumah.
Wadi itu memanjang panjang. Ratusan kilometer. Berlekuk-lekuk --mengikuti liukan sungai kering. Sungai itu baru ada airnya kalau terjadi hujan lebat. Setahun tiga atau empat kali saja.
Di salah satu bagian wadi itu disebut Wadi Doan. Itulah kota Wadi Doan, kampung nenek moyang Kholid Bawazir.
BACA JUGA:Disway Gratis
Di sepanjang pinggir sungai kering itu ada jalan raya kecil. Itulah yang menghubungkan satu wadi dengan wadi lainnya.
Kami mencoba menelusuri jalan wadi itu. Sampai satu jam. Tiba di kota wadi yang lain. Di situ ada satu masjid. Juga makam. Ternyata itu makam leluhur tokoh Arab di Jakarta --yang saya juga kenal baik dengannya.
Semua itu tidak terlihat dari jalan raya utama Mukalla-Tarim. Tapi, kalau Anda mau, mobil bisa Anda ajak keluar dari jalan raya. Masuk padang tanah. Offroad. Ke arah satu celah di kejauhan sana. Anda akan sampai di pinggir jurang. Dari bibir jurang itu Anda bisa melongok jauh ke bawah: di sanalah kotanya.
Ternyata sudah ada seorang pengusaha Saudi membangun kawasan villa di bibir salah satu tebingnya. Saya pun diajak ke villa itu. Istirahat di situ. Bukan main pemandangannya: menakjubkan. Tak terpermanai. Kami bisa melongok ke dalam jurang wadi. Dramatis.
Jurang itu dalam sekali. Banyak pohon kurma di dalamnya.
BACA JUGA:Disway Malang