XCMG Mlilir

XCMG Mlilir-Istimewa-

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Kendaraan kecil seperti yang saya tumpangi harus dipasangi semacam antena tinggi sekali. Di ujung antena itu dipasangi bendera kecil. Tujuannya: agar sopir truk super besar itu melihat ada mobil kecil di depannya. Tanpa tanda seperti antena itu mobil kecil tidak terlihat dari ruang kemudi. Lalu bisa tergilas seperti gajah bengkak menginjak banteng tua yang sudah ringkih. 

Ada yang baru lagi. "XCMG sudah bisa memproduksi truk yang lebih besar dari yang super besar itu," ujar manajer berbahasa Indonesia. Kapasitasnya 440 ton. "Baru XCMG yang bisa membuatnya. Berarti yang terbesar di dunia," tambahnya.

Yang lebih baru lagi: ia memproduksi truk dan ekskavator warna hijau. Itu pertanda sudah tidak pakai BBM lagi. Sudah pakai listrik.

Saya pun ditawari naik ke ruang kemudi di truk terbaru itu. Sifatnya ditawari. Bukan diminta. Ruang kemudi itu sangat tinggi. Mereka tahu saya sudah berusia 75 tahun. Saya tersenyum kecil kepadanya: saya ingin naik.

Berarti saya harus naik dua tangga tinggi: tangga di samping truk dan tangga lanjutan di bagian lain truk itu. Lalu masuk ruang kemudi: luas sekali. Di sebelah kemudi bisa dihampar kasur ukuran king size. Saya pun ditawari duduk di atas kemudi. Tapi tidak ditawari menjalankannya.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Dari pabrik cangkul bisa berkembang seperti ini. Dari atas super truk itu saya ingat teman saya di Mlilir, kabupaten Ponorogo: Agus Imron. Ia memproduksi alat-alat pertanian. Waktu saya menjadi sesuatu, saya ke pabriknya. Saya curhat kepadanya: sulit cari alat pertanian produksi dalam negeri. Misalnya mesin panen padi. Lebih sulit lagi mesin tanam padi.

Akhirnya Agus Imron mampu membuatnya. Saya pun minta diuji coba di sawah. Saya berencana BUMN pupuk membelinya beberapa buah. Untuk diberikan ke kelompok tani. Sekalian mendukung pengembangan industri dalam negeri. Harapan saya begitu tinggi pada Agus: bisa jadi raksasa produsen alat pertanian.

Setelah saya expired, saya dengar Agus melakukan ekspansi besar-besaran. Ambil kredit bank. Menambah peralatan yang lebih baru dan besar.

"Saya dapat pesanan besar langsung dari bapak Presiden Jokowi," katanya di media. Kalau tidak salah ingat: 200 mesin panen dan mesin tanam padi.

Berapa tahun kemudian saya baca berita: Agus marah-marah di media. Pesanan presiden itu tidak jadi. Agus telanjur ekspansi. Kreditnya macet. Perusahaannya pun bangkrut. Saya tidak sampai hati untuk menengoknya. 

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan