Zhou BK
Dahlan iskan-Istimewa-
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
"Saya pasti bisa," kata saya. "Saya pernah melakukannya waktu kecil di desa".
Saya pun mulai memegang timba. Memasukkannya ke mulut sumur. Tangan kanan memegang ujung tali. Timba sudah mencapai permukaan air --kedalamannya tidak sampai tiga meter. Saya pun mengibaskan tali. Timbanya terlihat terjungkit. Perasaan saya jungkitan timba itu seperti menciduk air. Sukses. Ternyata tidak. Timbanya tetap kosong. Lalu saya diamkan timba itu mengapung di atas permukaan air. Nanti akan miring sendiri lalu tenggelam penuh air. Begitulah cara lama yang saya lakukan.
Ternyata timba di rumah Zhou En Lai ini beda. Saya gagal. Salah satu dari yang menonton kegagalan itu minta saya menyerahkan timbakepadanya. Ia demostrasikan cara yang benar. Saya pun bertepuk tangan.
Pertanda lain Zhou dari keluarga kaya adalah ini: di rumah itu ada ruang khusus belajar. Isinya tiga bangku dan satu meja guru. Seorang guru didatangkan ke rumah itu setiap hari: mengajar Zhou dan dua sepupunya.
Zhou tinggal di rumah itu sampai usia12 tahun. Lalu merantau ke provinsi Liaoning yang lebih maju. Ikut pamannya. Sekolah di sana. Lalu kuliah di kota Tianjin --di Nankai University. Kelak di tahun 2007 saya sering lewat universitas itu --menjalani operasi ganti hati di rumah sakit di dekatnya.
BACA JUGA:Disway Gratis
Saya sudah banyak membaca literatur tentang Zhou En Lai tapi baru tahu pekan lalu di sinilah lokasi kelahirannya. Saya serasa mendapat bonus perjalanan. Dari rencana hanya melihat satu proyek menjadi berkunjung ke rumah tokoh besar Tiongkok. Ia salah satu pendiri republik. Ia menjabat perdana menteri begitu lama: 15 tahun. Bahkan boleh dikata Zhou adalah tokoh di balikcomeback-nya tokoh sentral reformasi Deng Xiaoping.
Waktu itu Deng menjalani masa pembuangannya di salah satu desa di luar kota Nanchang. Ia jadi tahanan rumah. Resminya: ia ditugaskan memimpin bengkel permesinan di desa itu. Tapi tidak diberi alat. Tidak diberi staf. Ia hanya bersama istri di desa itu.
Secara tidak resmi, Deng menjalani hukuman selama revolusi kebudayaan. Padahalia wakil perdana menteri. Ia dijauhkan dari pusat kekuasaan. Jabatan tingginya sebagai wakil perdana menteri terlalu berbahaya di dekat Mao Zedong.
Zhou-lah yang pelan-pelan meyakinkan Mao agar Deng dipanggil lagi ke Beijing. Zhou-lah yang tahu betapa pintar Deng mengatur perekonomian. Tentu Zhou berani meminta Deng ke Beijing setelah posisinya sendiri aman daribuzzer.
Apalagi rakyat kian merasakan kesengsaraan akibat revolusi kebudayaan. Zhou juga berani mengusulkan agar Deng kembali ke Beijing setelah tokoh muda terdekat dengan Mao Zedong tewas dalam kecelakaan pesawat: Letkol Lin Piao.Ups, bukan Letkol. Lin Piao sudah jendral bintang satu.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1