Tarim Tanah

Tarim Tanah-Istimewa-

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Di hari kedua di Tarim ini pun saya berpikir: entah sudah berapa banyak debu di tenggorokan dan paru-paru saya.

Setelah sarapan itu saya langsung ziarah. Ziarah pertama saya: ke tempat pembuatan bata tanah. Saya terkesan dengan bangunan rumah dan gedung di Tarim: tembok dan atapnya umumnya dari tanah. Tidak perlu ada program gentengisasi di Tarim. Tidak ada rumah beratap seng.

Sumber daya alam terbanyak di Tarim memang tanah. Gunung-gunungnya gunung tanah. Batunya pun bercampur tanah. Jalan-jalan dalam kotanya sebagian besarnya masih tanah. Ada memang sisa-sisa aspalnya tapi sudah banyak yang hancur tertutup debu.

Debu kering.

Setiap ada mobil dan motor lewat debu beterbangan seperti sarung yang dikebaskan. Debu itu selalu kering dan lembut. Hujan hanya turun lima enam kali setahun.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Ups... ke tempat pembuatan bata tanah itu ziarah kedua saya. Di hari pertama saya sudah ke pondok Darul Mustofa. Pondok paling terkenal di Tarim. Sebenarnya bukan ziarah ke sana. Apartemen yang saya tempati memang di sebelahnya. Hanya dipisahkan perempatan berdebu.

Saya tiba di Tarim hari Jumat. Pesawat Yemeni jurusan Jeddah-Aden itu ternyata tidak mendarat di kota Aden. Mendaratnya di kota Saiyun --kota kecil yang jaraknya hampir 1000 km dari Aden. Bandara Aden memang tutup untuk penerbangan internasional. Yakni sejak terjadinya perang di Yaman.

Padahal di tiket tertulis jurusan Aden. Di layar keberangkatan di bandara Jeddah juga tertulis penerbangan ke Aden. Ternyata mendarat di Saiyun.

Berarti, dari bandara Saiyun tinggal 40 menit ke kota santri Tarim. Saya tidak peduli pesawat itu mendarat di mana. Pokoknya mendarat di Yaman. Saya belum pernah ke Yaman. Ingin ke Yaman. Mumpung sedang di Makkah bersama istri dan rombongan.

Bahwa mendarat di Saiyun tetap saja alhamdulillah. Baru pertama ini saya mendengar nama Saiyun. Saat mendarat itu. Berarti saya bisa ke Tarim. Kalau saja pesawat itu mendarat di Aden beneran mungkin saya tidak akan sampai Tarim. Terlalu jauh dari Aden.

BACA JUGA:Disway Malang

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan