Guinness Patrick
Guinness Patrick-Istimewa-
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Orang tuanya bijak: tidak menentang keinginan sang anak. Toh empat anaknya laki-laki semua. Salah satu jadi pastor masih ada tiga.
Hanya saja sang ayah minta: masuk seminarinya setelah tamat SMA.
Patrick pun dikirim ke Jawa. Diikutkan pamannya. Di Tangerang. Di situ Patrick masuk SMA Santa Laurensia, Alam Sutera.
Di usia SMA itu Patrick menyadari: dunia ini ternyata luas. Maklum ia biasa di Fakfak. Yang tanah pergaulannya sangat sempit. Di depan rumahnya sudah laut. Di belakang rumahnya sudah gunung.
Patrick pun masuk Trisakti. Jurusan arsitektur. Ia berhasil jadi arsitek. Tapi hobi tinjunya terus berlanjut.
BACA JUGA:Disway Gratis
Tinju membuatnya sehat. Untuk bisa terus bertinju ia harus jaga badan: jaga makanan. Hati-hatinya amat disiplin. Setelah bangun pukul 07.00 ia minum kopi. Sarapannya telur empat butir: scramble. Lalu buah: pisang dan kurma. Atau anggur. Ia sangat suka anggur. Juga kiwi.
Makan siang Patrick juga monoton: biasanya daging ayam yang hanya direbus. Bagian dada. Dengan bumbu yang sangat ringan. Kalau toh berganti menu, ayam itu diganti ikan. Sejak kecil makanannya memang ikan –banyak ikan tongkol di Fakfak.
Selera makannya sudah terbentuk seperti itu. Tidak ada lagi selera lain. Soto, sate, gule, dan sebangsanya sudah tidak menarik air liurnya sama sekali.
Makan malam pun sudah tidak penting. Agar tetap bisa bertinju itulah yang terpenting. Untuk yang terpenting itu di ultah ke-40 1 November lalu ia mengadakan pertandingan tinju kelas dunia. Di BSD, Tangerang. Di arena tinju terkenal: QBIG.
Peserta pertandingan dibatasi. Yang boleh mendaftar hanya satu orang: ia sendiri. ''Lawannya''-lah yang banyak: enam orang. Semua pelatih tinju. Patrick lawan para pelatih itu. Secara bergantian. Terus menerus. Selama 24 jam.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1