Sirrul Cholil
Sirrul Cholil-Istimewa-
Ada anak kecil, wanita, melihat ulama besar itu seperti sangat membutuhkan air untuk wudu. Maka Si anak berkomat-kamit di dekat sumur. Tiba-tiba saja sumur itu penuh dengan air.
"Apa yang Anda komat-kamitkan sehingga sumur ini berisi air?".
"Salawat pada Nabi," jawab si anak.
Selesai berwudu Imam Jazuli langsung salat. Usai salat ia ingin mencari anak wanita tadi: sudah tidak terlihat. Sebagai ulama besar Imam Jazuli merasa "ditegur" oleh anak kecil: kurang membaca salawat.
Muqtafi-remaja terus membaca Dalail-nya Imam Jazuli. Ia berubah. Ayahnya tahu perubahan itu. Lalu diajak ke Makkah.
Di Makkah ia belajar ke ulama-ulama besar di sana. Anda sudah tahu: santri dari Indonesia dikenal sangat sopan dan tawaduk --sampai merasa tidak sopan untuk mengajukan pertanyaan ke ulama di sana.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Muqtafi beda. Ia sering mengajukan pertanyaan. Saking seringnya sampai ia dicela banyak santri dari Indonesia.
Sang guru ternyata cukup terbuka: justru memuji kualitas pertanyaan Muqtafi. Bahkan akhirnya sang guru menyampaikan "fatwa" di depan murid-muridnya: "kunci ilmu ada di pertanyaan".
Empat tahun Muqtafi di Makkah.
Pulang ke Madura ia menghadapi budaya lokal: dikawinkan saat masih muda. Dijodoh-jodohkan. Untuk anak kiai biasanya dijodohkan sesama anak kiai.
Muqtafi menolak tradisi dijodohkan itu. Ia menghindar. Caranya: berkelana. Ke berbagai daerah di Indonesia. Lalu ke Jakarta.
Di Jakarta itulah Muqtafi bergaul dengan berbagai intelektual muda Islam masa kini --saat itu. Sampai ke Paramadina --di situ bertemu Anies Baswedan. Juga dengan tokoh-tokoh Islam liberal seperti Ulil Abshar. Dengan orang-orang NU tingkat pusat. Dengan tokoh-tokoh Front Pembela Islam seperti Habib Riziq. Jakarta mengubah cara berpikir keagamaannya.