Sumsel Genjot Optimalisasi APBD
Sekda Sumsel, Dr Drs H Edward Candra MH beberapa waktu lalu. Menurutnya, upaya ini ditopang oleh percepatan digitalisasi transaksi pemerintah daerah yang akan terus diperkuat.-Istimewa-
SUMSEL - OKU EKSPRES.COM- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan pendapatan dan belanja dalam APBD. Sebab, ini akan berpengaruh pada perputaran uang di daerah.
Penegasan ini disampaikan Sekda Sumsel, Dr Drs H Edward Candra MH beberapa waktu lalu. Menurutnya, upaya ini ditopang oleh percepatan digitalisasi transaksi pemerintah daerah yang akan terus diperkuat.
Ia menegaskan, visi pemerintahan Herman Deru-Cik Ujang (HDCU) pada periode kedua ini yaitu Maju Terus Untuk Semua. Ini menjadi dasar dari seluruh arah pembangunan Sumsel. Ada 12 program prioritas yang sedang kita jalankan. Prioritas belanja daerah tetap mengacu pada visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur, bebernya.
Edward menambahkan, sejumlah program juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat. Karena itu, beberapa agenda perlu terus dikomunikasikan dan disinergikan agar pelaksanaannya berjalan efektif.
Ia menekankan bahwa skala ekonomi daerah tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya APBD.
BACA JUGA:APBD 2026 OKU Prioritaskan Pendidikan dan Kesehatan
BACA JUGA:APBD OKU 2026 Berpengaruh dengan Kondisi Regional
Kita akan memasuki tahun 2026 ketika ruang fiskal semakin sempit. Tahun depan, APBD Sumsel turun menjadi Rp9,6 triliun dari Rp11,4 triliun pada 2025, jelas Edward.
Ada pun untuk realisasi pendapatan APBD provinsi secara nasional mencapai rata-rata 89 persen. Sementara Provinsi Sumsel berada di angka 86,18 persen. Untuk realisasi belanja APBD, rata-rata provinsi se-Indonesia tercatat sebesar 76,80 persen. Provinsi Sumsel mencatat capaian 79,85 persen, menunjukkan kinerja belanja yang relatif baik.
Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto memaparkan potret sektor jasa keuangan Sumsel sepanjang 2025. Ia menyebut pertumbuhan kredit secara nasional mencapai 7,6 persen. Sedangkan di Sumsel berada pada level 5,8 persen. Kredit produktif di daerah juga terbilang positif, dengan total penyaluran mencapai Rp 71 triliun.
Risiko kredit perbankan di Sumsel masih perlu mendapat perhatian. Aktivitas transaksi pasar saham cukup menggeliat. Namun di sektor fintech, jumlah masyarakat yang meminjam masih lebih tinggi dibanding yang menabung, imbuh dia.
Arifin menyampaikan, program kerja TPAKD Sumsel sepanjang 2025 berjalan baik, termasuk program Aksi Pangan serta Sultan Muda Sumsel yang bertujuan mendorong inklusi keuangan masyarakat.
BACA JUGA:KUA-PPAS APBD OKU 2026 Disahkan
BACA JUGA:Belanja Daerah Turun 13 Persen, APBD OKU Timur 2026 Fokus ke Program Produktif