Sumsel Butuh Tambahan 300 SpOG
Sumsel Butuh Tambahan 300 SpOG-Istimewa-
SUMSEL - OKU EKSPRES.COM- Masih minimnya jumlah dokter spesialis, terutama spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG), terjadi juga di Sumsel. Belum lagi, sebarannya di kabupaten/kota belum merata. Padahal, layanan kesehatan ibu dan anak bersifat darurat dan tidak bisa ditunda, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan tenaga medis selama 24 jam.
Kondisi itu mengemuka dalam pelantikan Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Sumsel yang digelar di Ballroom Hotel The Alts Palembang, Sabtu (27/12).
Ketua POGI Sumsel, dr Irawan Sastradinata, mengatakan jumlah penduduk Sumsel sekitar 8 juta jiwa. Saat ini hanya ada sekitar 200 dokter spesialis kandungan. Namun, hampir 40 persen di antaranya terkonsentrasi di Kota Palembang dan beberapa kabupaten besar. Masih ada daerah yang kekurangan dokter spesialis, seperti Kabupaten PALI dan Musi Rawas Utara, katanya.
Padahal, sambung dia, pelayanan kebidanan itu tidak bisa ditunda, berbeda dengan penyakit lain. Kalau satu dokter cuti atau keluar daerah, risikonya sangat besar, ujarnya. Menurut dr Irawan, secara ideal Sumsel membutuhkan sedikitnya 300 dokter spesialis obstetri dan ginekologi agar layanan kesehatan ibu dan anak dapat berjalan optimal, dengan minimal tiga dokter spesialis di setiap kabupaten/kota.
BACA JUGA:Gubernur Sumsel Herman Deru Tanggapi Soal Kebijakan FWA
BACA JUGA:Tinjau Jembatan dan Cetak Sawah, Gubernur Sumsel Puji Pembangunan OKU Timur
Tidak perlu banyak, tapi harus berkualitas dan merata. Yang dibutuhkan bukan hanya kuantitas, tetapi kesiapsiagaan dan kualitas pelayanan, tegasnya. Ia menambahkan, POGI Sumsel akan mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah, institusi pendidikan, serta jejaring internasional untuk meningkatkan kualitas dokter spesialis.
Selain itu, lanjut dia, edukasi kepada masyarakat juga menjadi fokus utama, terutama terkait perencanaan kehamilan, skrining gizi, dan pencegahan anemia. Ke depan, kehamilan harus direncanakan dengan baik. Ibu harus siap, gizinya cukup, sehingga angka kematian ibu dan anak bisa ditekan. Target akhirnya adalah menciptakan generasi emas yang lahir dari ibu yang sehat, katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Dr H Herman Deru SH MM menegaskan persoalan kesehatan ibu dan anak tidak hanya menyangkut anak, tetapi juga keselamatan ibu. Diperlukan kerja bersama untuk mengatasi ketimpangan jumlah dokter spesialis di daerah. Ini bukan hanya soal kualitas, tapi juga kuantitas dan pemerataan. Tidak semua daerah bisa disamakan, imbuhnya.
Untuk itu, kata dia, Pemprov Sumsel siap duduk bersama dan mencari solusi, termasuk skema pembiayaan pendidikan dokter spesialis dengan kewajiban kembali mengabdi ke daerah, hingga pemberian insentif kepada dokter. Kita lihat nanti, bagaimana baiknya agar pemenuhan dokter ini bisa terjadi, paparnya.
BACA JUGA:BNNP Sumsel Ungkap 37 Kasus Hingga Desember 2025
BACA JUGA:Gubernur Sumsel Resmikan Jembatan Sungai Lematang
Menurutnya, profesi dokter kandungan memiliki jasa besar dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi. Pemda juga akan menyiapkan skema insentif dan dukungan agar para dokter spesialis bersedia bertugas di daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga medis. Kalau layanan kesehatan ibu dan anak terjaga dengan baik, maka kualitas sumber daya manusia Sumsel ke depan juga akan semakin kuat, pungkas Deru.