Isi Dompet

Minggu 19 Jul 2026 - 20:47 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Turkiye telah bisa menjadi negara yang unik dalam hubungan internasional. Turkiye anggota NATO. Organisasi pertahanan Atlantik Utara itu sangat anti Rusia tapi Turkiye bisa punya hubungan baik dengan Russia.

Tapi kalau lewat Istanbul terlalu ke selatan, lalu harus balik ke utara. Mendingan lewat Beijing. Ada penerbangan langsung Beijing-Moskow.

Maka dari Montreal, Kanada, saya terbang ke Beijing –lewat Seoul. Di Quebec City, sebelum balik ke Montreal, saya putuskan: tetap ke Rusia, tapi ke Vladivostok saja. Hanya dua jam penerbangan dari Beijing. Yang penting saya jadi ke Rusia. Hemat waktu. Hemat biaya.

Anda sudah tahu: banyak penerbangan dari Beijing ke Vladivostok. China Air saja dua kali sehari. Ada lagi penerbangan swasta Rusia: Aurora. Saya pilih naik Aurora. Jadwalnya cocok: saya kan mendarat di Beijing pukul 20.00. Aurora terbang ke Vladivostok pukul 05.00. Hanya sayangnya harus pindah bandara: dari bandara Capital Beijing ke bandara Daxing yang lebih baru.

Tidak masalah. Saya bisa tidur seadanya di bandara. Toh saya sudah bukan siapa-siapa lagi. Sebenarnya Jannet menawarkan tidur di rumahnyi di Beijing tapi waktu akan habis di jalan.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Harap Disway Group Bisa Jadi “Agama Baru”, Menpora Minta Dukung Program Olahraga dan Kepemudaan

BACA JUGA:Disway Gratis

Persoalan besar muncul: saya tidak punya rubel. Padahal berbagai macam kartu bank tidak berlaku di sana. Pun uang digital.

Sistem digital perbankan internasional diputus –tidak bisa dipakai di Rusia. Berarti saya harus bayar apa pun di sana pakai uang kontan. Dompet saya sudah tipis –hanya diisi kartu-kartu.

Saya harus cari utangan. Renminbi. Untuk ditukar rubel di bandara Beijing.

Betapa banyak rubel yang harus saya bawa. Setidaknya harus cukup untuk membayar hotel yang tidak murah. Bayar hotel harus dengan uang cash. Seperti balik ke zaman batu.

Hotelnya sendiri tidak mengharuskan pakai uang cash. Bisa pakai kartu. Tapi kartu Rusia. Rupanya Rusia sudah punya sistem pembayaran digitalnya sendiri. Isolasi Barat memang menyusahkan saya, tapi tidak sampai menyusahkan warga negara di sana.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Saya pernah punya rubel satu tas plastik. Di zaman Presiden Soeharto. Saya ikut dalam rombongan presiden berkunjung ke Moskow dan St Petersburg. Lalu ke Tashkent di Uzbekistan –waktu itu masih bagian Uni Soviet. Dari Tashkent ke Bukhara di Samarkand --ke makam perawi hadis ulama besar Imam Bukhari.

Saat bermalam di Tashkent, kamar hotel saya diketuk tiga kali. Ketika saya buka pintu dua orang berjubah muslim memaksa masuk sambil memberi isyarat agar saya jangan bicara.

Kategori :