Oleh: Dahlan Iskan
"Kok tahu ya?"
"Tahu apa?" tanya teman dari Beijing yang gabung di New York sehari setelah kedatangan saya.
"Itu lho. Ada pembaca Disway bernama Putu yang tahu bahwa saya akan nonton sepak bola Piala Dunia pakai tiket lungsuran," jawab saya dengan tertawa lebar. Saya pun menunjukkan salah satu komentar di edisi Disway kemarin dulu.
Teman dari Beijing itu memang rajin membaca tulisan saya di Disway, lewat aplikasi terjemahan ke bahasa Mandarin. Dia juga jadi ''marketing'' Disway di Tiongkok mengajak jaringannya membaca Disway dengan cara yang sama. "Ingin tahu dalamnya Indonesia tidak bisa hanya lewat berita biasa," katanya selalu.
Komentar ''perusuh'' Disway yang bernada mengejek itu sungguh benar adanya. Saya nonton Piala Dunia, besok, pakai tiketnya James F. Sundah.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Anda sudah tahu siapa James Sundah: pencipta lagu-lagu abadi, salah satunya Anda sudah sering menyanyikannya: Lilin-lilin Kecil. James meninggal dunia 40 hari lalu.
Saya hadir di kebaktian 40 harinya di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Emanuel di Queens, New York.
James jemaat di gereja itu meski istrinya, Lia, tetap Katolik. Lia sering ikut suami kebaktian di situ dan suami sering ikut Lia misa di gereja Katolik.
"GKPI di sini merupakan gereja independen," ujar pendeta Rolland Samson. Penjelasan itu sekaligus sebagai ralat saya saat memberi sambutan di altar yang saya kira GKPI Queens bagian dari GKPI yang sinode pusatnya di Pematang Siantar itu.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Begitu mendarat di bandara JFK saya minta izin ke Lia untuk tidak lagi tidur di rumahnyi. James sudah meninggal. Lia sendirian di rumah itu.