Sejak perang Rusia dengan Ukraina memang tidak ada pesawat yang terbang ke Kiev. Rute terdekat lewat Warsawa. Bisa saja lewat Belarus tapi naik keretanya lebih jauh.
"Apakah Kiev aman dalam suasana perang selama ini?"
"Kiev aman," ujar Dr Iryna Matiashchuk, yang pagi ini akan bicara soal stemcell di forum simposium nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSI). Ketua PERDOSI Indonesia, dr Yudha Haryono ahli saraf dari Unair Surabaya.
BACA JUGA:Disway Gratis
"Langit Kiev dipayungi sistem keamanan," tambah Maryna. "Militer kami kuat," tambahnya. Kota Kiev memang tidak dipasangai Iron Dome seperti Israel, tapi pengamanan udaranya berlapis-lapis. Mulai dari Patriot, NASAMS, IRIS-T, SAMP/T, radar, dan tangkisan serangan elektronik.
Ibu kota Kiev mendapat perlindungan paling kuat di Ukraina.
Orang Kiev, kata Maryna, sudah tidak punya rasa takut. Sudah biasa. Hanya sesekali ada sirine tanda bahaya. Begitu ada sirine mereka sudah tahu barus bagaimana: ke bunker di bawah tanah. Tiap sekolah punya ruang bawah tanah. Pun tiap gedung. Bisa juga mereka menuju ke stasiun kereta bawah tanah untuk berlindung di sana.
"Saya, kalau sirinenya berbunyi tengah malam tidak akan lari. Pilih meneruskan tidur," ujar Maryna.
"Skala 1 sampai 10 berapa rasa takut Anda?"
"Yaaah.... di level dua," kata Maryna.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Salah satu pasien dari Indonesia memang ada yang menunda berangkat ke bulan Agustus. Bukan karena takut serangan Rusia melainkan begitulah anjuran suhu pribadinya.
Saya pun menghubungi Dr Yudha Haryono, Ketua Perdosi Indonesia: kenapa yang diundang berbicara dari Ukraina.
"Riset stemcell di sana sangat baik. Demikian juga hasilnya," ujar Dr Yudha.