Lewat Pasrah

Minggu 07 Jun 2026 - 21:25 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Oleh: Dahlan Iskan

OKU EKSPRES.COM-Saya salah hitung. Saya pikir guncangnya rupiah dan bursa saham hanya karena tidak adanya kepastian ekonomi akan ke mana. Setelah ada kepastian guncangan akan reda, lalu melandai. Bisa landai terus-menerus bisa juga pelan-pelan naik lagi.

Ternyata, setelah dipastikan ekspor batu bara, sawit, dan besi alloy tetap akan dilakukan oleh satu pintu Danantara rupiah masih juga terus merosot: melewati angka terendah dalam sejarah Republik Indonesia. Indeks saham juga masih turun hampir ke level terendah dalam lima tahun.

Memang masih ada satu kepastian lagi yang ditunggu: MBG. Yakni program yang menguras APBN begitu dalam. Sebagian analis mengatakan itu akan membuat APBN ambruk.

Tapi Kamis lalu kepastian itu sudah ditegaskan: MBG jalan terus. Tetap jadi kebanggaan presiden. Di Amerika pun MBG hanya diberikan kepada murid yang penghasilan orang tuanya kecil. Di Prabowo tidak pandang bulunya murid. Di Amerika siswa yang gaji orang tuanya tidak terlalu kecil sudah harus bayar meski hanya separo harga. Di Indonesia siapa pun dapat gratis tis.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Tapi presiden juga mendengar suara publik. Kepala dan wakil kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dicopot. Lalu ditangkap. Dimasukkan tahanan. Presiden juga terjun sendiri menjadi semacam penyuluh dapur MBG: telur tidak boleh didadar agar tidak dicampuri tepung. Satu ayam tidak boleh dipotong 14 agar tidak terlalu kecil.

Tapi rupiah tetap melemah. Bursa saham belum juga berhenti merosot.

Tentu presiden akan melihat dulu satu dua bulan ke depan. Siapa tahu kejengkelan para pelaku pasar reda. Siapa tahu para pengusaha mau kembali ke prinsip dagang: rugi satu miliar lebih baik daripada rugi Rp10 miliar. Rugi Rp10 miliar lebih baik daripada rugi Rp100 miliar.

Atau: hanya laba satu miliar lebih baik dari laba 100 juta –meski dulunya laba satu miliar. Laba Rp10 miliar lebih baik dari laba satu miliar –meski pun dulu bisa laba Rp100 miliar.

Kondisi sekarang memang beda. Pengusaha batu bara tidak bisa berlaba semaunya lagi. Tinggal tetap melawan atau mulai menerima keadaan.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Inilah masa penantian yang bisa pendek bisa panjang: menanti perubahan psikologi para pengusahanya.

Kategori :