Berarti Kang Dasep masih memikirkan mobil listrik yang ia pernah melahirkannya. Hanya beda bidang. "Silakan semua orang bikin mobil listrik, saya membuat otaknya," katanya.
Kang Dasep menunjukkan betapa rumit ''rumah'' baterai itu sekarang ini. Ia menunjukkan desain baterai di mobil Tesla. Yang ia ciptakan jauh lebih sederhana dari itu tanpa mengurangi fungsi ''rumah'' itu. Baik kekuatannya maupun keamanannya. Kang Dasep mengintegrasikan sistem pendingin baterai di ''rumah''-nya itu.
Yang ingin ia capai adalah: bisa membantu desain baterai agar charging mobil listrik bisa secepat mobil bensin isi BBM. Material dan pendinginan sangat menentukan. Secara teori Denza maupun Tesla bisa charging dalam 10 menit untuk terisi 80 persen. Tapi kenyataannya masih 45 menit. Itu pun kalau charging-nya ultra fast charging. Teknologi baterainya sudah 10C. Hanya kenyataan dalam praktik kapasitas 10C itu terpakai 2C atau 3C.
Saat kuliah di ITB (mesin), Kang Dasep lulus dengan IPK 4,2. Saya pun menyampaikan pujian atas nilainya itu. Ia merendah. "Kalau dulu tidak jadi aktivis bisa lebih tinggi," katanya.
"Waktu jaman saya skala nilai di ITB masih maksimum 5, jadi saya 4,2. Kemudian berikutnya di ITB setelah zaman saya skalanya diubah maksimum 4," jelas Dasep saat saya konfirmasi ulang soal IPK 4,2.
BACA JUGA:Disway Gratis
Tapi Dasep tidak menyesali pernah jadi aktivis. "Bermasyarakat itu penting. Untuk apa nilai lebih tinggi tapi tidak banyak manfaat," katanya.
Salah satu yang memakan perhatiannya saat mahasiswa: jadi pengurus masjid Salman ITB. Ia jadi ketua bidang teknologi terapan.
Setengah hari penuh saya bersama Kang Dasep Senin lalu. Saya ajak ia makan siang di masakan Hungaria. Sebenarnya ia sedang puasa Senin-Kamis tapi saya menggodanya: "dengan membatalkan puasa Anda dapat dua pahala," kata saya.
"Pahala puasanya tetap dapat, pahala menyenangkan orang lain juga dapat," kata saya agak ngawur. Intinya: saya kangen sekali dengan Kang Dasep. Ingin ngobrol panjang.
Saya pilih masakan Hungaria hanya karena lokasinya. Di sebelah klinik stem cell dr Yanti di ArtHotel, Gatot Subroto. Setelah itu Kang Dasep saya ajak podcast di lantai 19 gedung Menara Global. Saya bisa pinjam studio podcast di situ: milik IDN Times. Wartawan senior Uni Lubis, menjabat pemred di situ.
BACA JUGA:Disway Malang
BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
Setelah punya hak paten internasional itu Kang Dasep akan terus fokus ke seputar teknologi baterai. Ia akan terus jualan otak.
"Apakah tidak masygul kini melihat mobil listrik asing menguasai pasar Indonesia?