Jakarta Malang

Minggu 08 Feb 2026 - 20:52 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Oleh: Dahlan Iskan

OKU EKSPRES.COM- Antarumat itu terlihat begitu rukun. Gereja Katolik Katedral Malang sampai mengurangi ibadah misa: dari enam kali tinggal dua kali. Demi Nahdlatul Ulama (NU).

Sekolah dan masjid Muhammadiyah Malang disediakan untuk transit pengunjung dari luar kota: Demi NU.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menyediakan layanan singgah lengkap dengan makanan dan minuman: Demi NU.

NU punya acara besar Sabtu-Minggu lusa di Malang: Mujahadah Akbar dalam rangka HUT ke-100 tahun –versi kalender Masehi.

Sebetulnya HUT ke-100 tahun itu sudah dilaksanakan di Jakarta. Di Istora Senayan. Pekan lalu. Tepat di hari kelahirannya: 31 Januari 1926.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Dua HUT itu juga sama: Demi NU. Yang di Jakarta demi NU-nya Gus Yahya. Yang di Malang demi NU-nya Kiai Akhyar.

"Sudah tidak bisa dirukunkan lagi," ujar KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren terkemuka Cirebon, Bina Insan Mulia (BIMA).

Kiai Imam adalah doktor lulusan Al Azhar, Cairo. Pernah menjadi ketua cabang PDI-Perjuangan di Mesir.

Maksudnya: kubu Gus Yahya (Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf) dan kubu Kiai Akhyar (Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar) itu. Upaya mendamaikannya sudah begitu masif. Sampai berhasil. Kelihatannya. Mereka sudah saling bertemu. Cipika. Cipiki. Tapi masih ada dua HUT.

"Secara visi dan misi sudah tidak bisa bersatu," tambah Kiai Imam Jazuli.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Kategori :