Amang Tabung

Kamis 15 Jan 2026 - 21:57 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Misalnya: embrio dari satu orang dikawinkan di lab dengan sperma laki-laki siapa pun. Lalu benih itu ditaruh di kandungan wanita yang lain lagi yang ingin punya anak.

Kini, kata Prof Amang, juga sudah bisa dilakukan: embrio bibit unggul dari wanita tertentu disimpan. Siapa boleh memakainya.

Embrio unggul itu –setelah dibuahi sperma unggul– ditanam di kandungan seorang wanita yang ingin punya anak unggul.

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Lantas, anak siapakah itu?

Tetap anaknyi yang menghamilkan. Karena bayi itu tidak akan hidup kalau tidak dihamilkan. Darah yang mengalir ke janin itu pun dari darah ibu yang mengandungnya.

Entahlah.

Etika lain yang tetap dijunjung Amang adalah: berapa jumlah embrio yang ditanam. Prof Amang tetap hanya mau menanam dua. Paling banyak tiga. Kemungkinannya: bisa gagal semua. Bisa berhasil satu. Berhasil dua. Atau kembar tiga.

Kini mulai ada wanita –atau suami istri– yang minta ditanam sebanyak yang bisa. Misalnya sampai tujuh embrio.

Kalau pun misalnya jadi semua ada jalan keluar. Si ibu akan memilih satu saja: yang mana yang akan dilahirkan. Tentu yang paling baik. Selebihnya digugurkan.

Proses menggugurkannya pun mudah. Janin itu disuntik. Akan mati sendiri. Mati dalam kandungan. Itu tidak bahaya bagi sang ibu. Kelak ''jenazahnya'' diambil bersamaan dengan proses kelahiran.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Yang seperti itu terjadinya di luar negeri. "Saya pernah diminta melakukan penyuntikan seperti itu," ujar Amang.

Yakni waktu ia memperdalam ilmu bayi tabung di luar negeri. "Saya tidak mau," ujar Amang sambil bergidik.

Kategori :