Maka Sibea-bea mestinya bisa ditembus dari Silalahi. Sama-sama di pinggir danau. Lokasinya bersebelahan. Sebenarnya Silalahi dan Sibea-bea itu ibarat ''masih jauh di hati tapi dekat di mata''. Hanya perlu jalan tembus di pinggir danau.
Jalan itu sudah dibuat oleh Pemkab Dairi. Sudah sampai di perbatasan Kabupaten Samosir. Tapi pihak Samosir belum membuat jalan tembus untuk menyambut sambungannya itu. Ibarat orang salaman, Dairi sudah mengulurkan tangannya. Hanya belum bersambut.
Tentu suka-suka bupati Samosir untuk menyambutnya atau tidak. Tidak banyak keuntungan didapat Samosir. Tapi bernegara tidak hanya soal untung dan rugi. Gubernur Sumut perlu turun tangan. Gubernur bisa mengoordinasikannya —sambil memberi sedikit dana pembangunannya.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Kalau jalan tembus itu tersambung, Silalahi bisa punya akses lebih baik ke Sibea-bea. Lalu bisa ke bandara Silangit lebih dekat.
Kalau tidak, maka akses keluar Silalahi hanya dua: ke Sidikalang dan ke Simalungun. Ke Sidikalang tidak akan dapat banyak manfaat. Ke Simalungun jauhnya bukan main. Harus menyusuri hampir separo tepian Danau Toba.
Saya menyusuri jalan berliku itu; melingkar-lingkar. Menuju Simalungun. Kadang Toba terlihat di sisi kanan. Indah dan damai. Kadang berubah, Toba terlihat di sisi kiri. Indah dan damai. Kadang Toba seperti persis di pinggir jalan. Indah dan damai. Kadang Toba terlihat seperti nun jauh di bawah sana. Indah dan teduh.
Sebelum ke Simalungun —dan sebelum salat Jumat di Silalahi— kami ke monumen leluhur mereka. Kami melewati pusat kampungnya: padat, miskin, dan tidak terawat. Masih terlihat rumah-rumah kuno yang asli Silalahi. Tapi sudah berimpitan dengan bangunan-bangunan semi permanen yang ditempel-tempelkan ke rumah adat itu.
Monumen Silalahi itu sendiri seperti tugu Monas di Jakarta. Lebih kecil. Lebih pendek. Lebih sederhana. Di puncaknya bukan emas 36 kg, tapi sesuatu yang asing di imajinasi saya.
BACA JUGA:Disway Gratis
"Itu melambangkan apa?" telunjuk saya menuding ke puncak monumen dan wajah saya menoleh ke Pak Camat di sebelah saya.
"Itu perlambang bunga pisang," jawabnya. Oh...jantung pisang. ''Ontong'' dalam bahasa Jawa. Maknanya: pisang itu terus beranak-pinak sampai turun-temurun. Begitu pula marga Silalahi.
Tapi Anda sudah tahu: ada dua pendapat soal siapa yang berhak menggunakan marga Silalahi. Di satu pihak hanya keturunan Silalahi Raja yang bisa bermarga Silalahi. Silalahi Raja adalah anak pertama sang pemula. Di pihak lain seluruh keturunan Silalahi Sabungan, sang pemula, boleh menggunakannya.
Tapi mereka rukun. Sama-sama menghormati leluhur mereka: Silalahi Sabungan. Di bagian bawah monumen digambarkan —lewat relief— perjalanan leluhur marga Silalahi di situ. Termasuk riwayat bagaimana sang Raja memilih istri.