Puisi Ayah

Senin 22 Dec 2025 - 22:04 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Reski...meski dunia nanti mengikat waktumu...

Ingatlah...hati papa akan selalu menjadi tempat kembalimu seletih apa pun...

Selalu ada ruang kosong di hati papa...

Ada pintu yang tidak pernah dikunci...karena kaulah kuncinya..

Jendela rumah kecil kita selalu tersenyum...untuk setiap langkahmu yang ingin pulang...

untuk setiap rindu yang kau lantunkan dalam doa...

BACA JUGA:Disway Malang

BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1

Reski...bagaimana pun kau pergi...hati papa tidak pernah benar-benar melepaskan...hanya belajar menyembunyikan rindu

dalam kata yang paling sederhana...“Hati-hati ya, Nak.”

"Berjalanlah dengan nafasku dan keridhaanNya".

***

Begitu lulus fakultas teknik (sipil) Universitas Hadanuddin Makassar, sang ayah, Adrin, diterima sebagai pegawai negeri. Yakni di Kementerian Pekerjaan Umum.

Adrin tidak mau jadi pegawai negeri. Ia pilih ikut proyek-proyek swasta. Spesialisasinya adalah irigasi pertanian dan pengukuran tanah.

Ia tidak pernah mau naik jabatan. Tetap ingin di lapangan. Pun walau harus sampai ke pulau We di Sabang dan Merauke. Waktu bandara Digul di pedalaman Papua dibangun ia berbulan-bulan di sana.

Pekerjaan terakhirnya adalah pengukuran tanah untuk bandara Luwuk. Lalu pensiun. Ia membeli tanah di desa. Bukan di kota. Yakni di desa Bunga, setengah jam dari kota Luwuk. Ia bangun sendiri rumah di situ --untuk mencukup-cukupkan uangnya.

Kategori :