"Masih punya nama Tionghoa?" tanya saya.
"Tidak punya".
"Tapi masih punya marga Tionghoa kan?"
"Masih. Marga saya Thio," jawabnya. Thio adalah bahasa daerah Fujian. Bahasa mandarinnya Zhang (张).
Thio sudah menyatu dengan suku lokal di Morowali. Tidak lagi bisa berbahasa Mandarin.
"Saya lahir di desa sebelah Wosu ini," katanya. Mamanya pun sudah lahir di desa itu. Ayahnya yang masih lahir di Tiongkok.
Waktu saya mampir ke rumah itu, semua pintunya tertutup. Tapi Moh Ali ada di rumah. Saya menunggu di teras. Tidak ada yang berani mengetuk kamarnya.
BACA JUGA:260 Disway
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
Tak lama kemudian terdengar azan pertama salat Asar. Seorang staf di rumah itu bilang ke saya: "Itu sudah ada suara azan. Sebentar lagi beliau pasti keluar," ujarnya.
Betul sekali. Ketika Azan belum selesai Thio sudah membuka pintu. Ia tampak kaget, ada tamu. Saya pun diminta masuk ke ruang tamunya yang sangat bagus. Duduk di sofa. Berbincang dengannya.
Saya tahu tidak boleh lama-lama berbincang. Ia sudah harus ke masjid besar yang terlihat dari rumahnya. Masjid itu ia yang membangun. Ia tidak pernah absen salat lima waktu di masjid itu.
Ia praktis tidak pernah bepergian. Belum pernah pergi ke Tiongkok.
"Kenapa selalu pilih naik sepeda motor?".
Ia hanya terkekeh. Ia bercerita memang banyak orang yang mengingatkannya: jangan selalu naik motor sendirian seperti itu. Nanti dirampok.