Di ibu kota itulah ia mengarahkan senjata ke jajaran tentara secara membabi buta. Setelah dua tentara tersungkur beberapa tentara meringkusnya. Sampai hari ini belum diketahui motifnya. Amerika langsung menggolongkannya sebagai teroris.
Tentu sangat menarik menunggu pengungkapan motif penembakan itu. Terutama karena ia pernah bekerja sebagai CIA. Tentu problem besar bagi Trump: 60.000 orang Afghanistan itu tidaklah sedikit. Semua minta suaka. Trump memperketat syarat suaka.
Trump ingin memanfaatkan isu pengungsi dari Afghanistan ini untuk menjatuhkan nama Biden. Tahun depan adalah tahun Pemilu di sana.
Baru kali ini perayaan Thanksgiving dipakai untuk memanaskan suhu politik. Sekalian bisa untuk mengalihkan perhatian dari keluhan masyarakat mengenai naiknya harga-harga barang –termasuk harga daging kalkun.(Dahlan Iskan)