BACA JUGA:Event Disway Mancing 2024, Wartawan TVRI Raih Juara 1
"Sampai akhirnya saya tidak bisa beli Indomie lagi di koperasi karyawan Bogasari Surabaya," ujar Kholid.
Padahal dengan kulakan lewat koperasi ia bisa dapat harga lebih murah. Tapi setelah itungan kontainer, koperasi tidak bisa melayani.
Sejak itulah Kholid berhubungan dengan Indomie pusat di Jakarta. Ekspornya pun terus bertambah. Lalu Kholid mengusulkan agar Indomie bikin pabrik di Saudi.
Usul itu tidak disetujui. Dianggap terlalu berisiko. Indomie punya ide lain: kenapa tidak Kholid saja yang membangun. Pakai sistem royalti. Bayar royalti ke Indomie.
Kholid setuju dengan ide itu. Dibangunlah pabrik di Jeddah. Lokasinya hanya sekitar 500 meter dari pabrik kopi Kapal Api Wazaran.
BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan
BACA JUGA:260 Disway
Apakah pabrik sarungnya masih diurus?
Tidak saja masih diurus! Bahkan juga dikembangkan. Kholid tiga tahun lalu mengambil alih pabrik sarung merek Gadjah Duduk. Yang di Pekalongan itu. Tahun itu Gadjah Duduk pailit. Dilelang. Kholid ikut lelang. Menang.
Sebagai satu-satunya anak yang tidak boleh kuliah oleh ibunya, Kholid tidak sakit hati. Perintah ibu dianggapnya berkah. Apalagi latar belakang perintah itu jelas: agar Kholid membantu di toko sarung ayahnya yang sudah tua.
Ketika sang ayah meninggal dunia, perusahaan pun dimiliki bersama delapan bersaudara. Hanya saja Kholid menjadi pemegang saham terbesarnya: 40 persen. Sisanya dibagi rata untuk tujuh orang. Termasuk untuk dua anak perempuan yang semuanyi jadi dokter gigi.
"Biar pun anak perempuan bagiannyi sama. Kami tidak menjalankan ketentuan bahwa anak perempuan dapat separo anak laki-laki," ujar Kholid.
Itulah sebabnya delapan bersaudara itu tetap rukun. Saya tidak bertanya bagaimana Wazaran Group di tangan generasi ketiga kelak. Kapal Api sudah berproses beralih ke generasi ketiga.
BACA JUGA:Disway Gratis