Cahaya Adharta

Kamis 30 Oct 2025 - 17:25 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Eris Munandar

Ia tidak selamat.”

Dunia Maria runtuh dalam sekejap.

Suara di sekelilingnyi lenyap.

Ia jatuh berlutut, memeluk telepon yang dingin, seakan dari sana ia bisa menarik kembali suara suaminyi.

Malam itu, salju turun tipis di luar jendela, putih dan senyap, seperti menutupi semua warna kehidupannyi.

Hari-hari setelah itu berubah menjadi kabut.

Maria berhenti bicara.

Ia datang ke makam Kelvin setiap hari, duduk diam di bangku batu, membaca ulang surat-surat cinta lama.

”Kenapa kamu pergi begitu cepat?” bisiknyi berulang kali.

Satu tahun berlalu. Ia masih menatap foto pernikahan mereka setiap malam.

BACA JUGA:260 Disway

BACA JUGA:Disway Network dan B Universe Jalin Kemitraan

Senyum Kelvin seolah hidup, tapi tak lagi bisa disentuh.

Suatu hari, ibunyi menelepon dari Jakarta.

”Maria, datanglah ke sini sebentar. Bawa Sandy. Udara di sini hangat, mungkin bisa menyembuhkanmu.”

Maria diam lama, menatap langit Beijing yang kelabu.

Kategori :